IMG_5014IMG_5014
IMG_5015IMG_5015
IMG_5016IMG_5016

Pusaka Kerbau Kyai Slamet

Rp 310,000

Pusaka Patung Kerbau Kyai Slamet berkhasiat Insya Allah untuk memudahkan segala hajat dan membuka jalan kesuksesan serta membuang segala kesialan hanya dengan menyimpan patung kyai slamet ini.
Produk Jenis ini bernama Patung Kerbau Kyai Slamet.
Ukuran : 13x6x4 CM.
Gambar : Gambar Foto Asli Tanpa Editan.
Stok Produk : Jumlah Terbatas.
Asal Usul : Keraton Solo.

Kategori:
  • Deskripsi

Deskripsi

Tentang Asal Usul Kerbau Kyai Slamet / Kebo Bule Keraton Solo. Sejak 250 tahun lalu hingga kini, kerbau bule Kiai Slamet memiliki makna khusus, sekaligus mendapat tempat terhormat dalam kehidupan di Keraton Kasunanan Surakarta.
Tentu saja, bukan kerbau sembarang kerbau. Namun, inilah kerbau yang menjadi hewan keramat di wilayah Surakarta. Tak ada yang bisa memastikan sejak kapan kerbau ini menjadi sesuatu yang disayangi/dibanggakan keraton.
Banyak versi tentang asal muasal kerbau berkulit albino ini. Menurut cerita seorang abdi dalem keraton, konon kerbau bule Kiai Slamet adalah seekor kerbau jantan besar keturunan kerbau bule zaman Sultan Agung Hanyakrakusumo.
Pada zaman Sultan Agung pernah terjadi peristiwa kebakaran hebat yang melanda sebuah perkampungan. Saking besarnya kobaran api, merembet ke wilayah keraton. Anehnya, jilatan api tidak bisa melewati sebuah kandang kerbau. Padahal kandang-kandang lain sudah ludes terbakar beserta ternak di dalamnya.
Setelah api dapat dipadamkan, kandang kerbau itu tetap utuh. Bahkan rumput yang menjadi pakan (makanan) kerbau tetap tak tersentuh api. Secara nalar, hal ini tak mungkin terjadi. Sebab, semua bangunan yang berada di sekitar kandang sudah rata jadi abu.
Ketika Sang Raja menengok kandang, seekor kerbau bule sedang makan rumput ditunggu seorang penjaga kandang yang membawa sebuah tombak.
Baru saja melihat keajaiban itu, terdengar suara hiruk pikuk warga yang mengabarkan terjadinya kebakaran lagi.
Sultan Agung pun memerintahkan penjaga kandang dan kerbaunya untuk mengelilingi tempat yang dilanda kebakaran. Anehnya, begitu kerbau dan penjaga kandang datang dengan membawa tombak, kebakaran langsung mereda.
Sejak saat itulah kerbau dan tombak beserta penjaga kandang menjadi milik keraton. Kerbau dan tombak akhirnya dinamakan Kiai Slamet. Sedangkan si penjaga kandang diangkat menjadi punggawa keraton dengan pangkat Ki Lurah Maesaprawira.
Ada versi lain tentang keberadaan kerbau bule ini. Konon, kerbau bule ini merupakan hadiah dari Bupati Ponorogo untuk Pakoe Boewono II, sekitar abad 17. Kisah ini berawal dari pemberontakan yang dilakukan Pangeran Mangkubumi hingga membuat sinuwun (Raja Pakoe Boewono II) harus mengungsi ke Ponorogo.
Sang Raja ditampung oleh Bupati Ponorogo dan tinggal di Ponorogo hingga pemberontakan berakhir.
Pada masa pelariannya ini, Pakoe Boewono II mendapat petunjuk gaib bahwa pusaka Kiai Slamet harus direkso (dijaga) oleh sepasang kerbau bule agar kerajaan aman dan langgeng.
Tanpa disangka, sang Bupati tiba-tiba ingin menunjukkan baktinya kepada rajanya dengan memberikan sepasang kerbau bule.
Pada masa itu, bahkan pada masa sekarang, kerbau bule sangat jarang ditemui dan hanya dimiliki oleh orang-orang penting. Sang Raja pun menerima hadiah ini dan membawa sepasang kerbau bule ke Keraton Kartasura. Setelah pemberontakan usai, keraton pindah ke Solo menjadi Keraton Surakarta.
Selama bertahun-tahun dan turun-temurun, kerbau bule menjadi penjaga pusaka Kiai Slamet. Nama Kiai Slamet yang sebenarnya merupakan nama pusaka yang konon berupa tombak itu pun, lama-kelamaan melekat pada kerbau bule.

946 kali dilihat, 6 kali dilihat hari ini